Usaha Sampingan Seorang Guru Swasta.


Nawadlir(47), seorang Guru Swasta sejak tahun 1992, di Desa Bungah yang tengah bekerja sebagai pengrajin songkok sebagai usaha sampingan. Usaha tersebut telah dijalankan sejak tahun 2000 hingga sekarang bersama dengan istrinya, dan diberi nama “Assa”. Nama “ASSA” sendiri terinspirasi dari nama sekolahan tempat ia mengajar yang bernaungkan pondok pesantren di salah satu Desa Bungah.

Asal mulanya ia memproduksi songkok sendiri, karena di tempat tinggalnya banyak sekali pengrajin songkok, juga terdapat beberapa pondok pesantren yang mendorong dia untuk membuat produk hasil tangannya sendiri. Dan banyak sekali peminatnya ketika sudah menjelang hari Raya. “Dulu saya sempat jadi karyawan di tetangga saya mbak, waktu itu saya bagian mengukur panjangnya, kalo uda selesai ya kadang bantu karyawan lain buat ngejahit. Tapi, kalau sekarang Alhamdulillah saya sudah punya karyawan sendiri buat produksi mbak, kadang istri saya juga malah ikut ngebantu.” Tuturnya. 

Dari tahun ketahun Nawadlir(47) mengatakan bahwa ide dalam memproduksi Songkok ini terus berkembang. Yang awalnya dia memproduksi songkok yang polos saja, menjadi songkok yang ada motifnya. Namun, pada saat itu motif yang ia gunakan menggunakan teknik print ke kain bludru yang akan digunakan sebagai bahan songkoknya. Dan harganya sendiri sedikit mahal. Tapi, dengan segala ide yang bermunculan dari dirinya membuat Songkok dengan motif tersebut banyak diminati oleh warga sekitar, bahkan para lembaga-lembaga pun sangat tertarik dengan produk tersebut. Dan dia juga menambahkan bahwa songkok hasil produksinya sudah sampai di kota Kudus, Jawa Tengah.

Seiring berkembangnya waktu, dia mendapatkan saran dari salah satu Customernya bahwa songkok akan jauh lebih bagus atau hidup jika motifnnya di lukis secara manual dengan menggunakan cat. Namun, sayangnya dia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menggambar. Tapi, dia tidak menyerah begitu saja. “Saya cari-cari info kesana kemari mbak, lah kemudian nemu orang yang bisa ngelukis secara langsung ke kain bludrunya, jadi saya langsung membuat kesepakatan dengan orangnya. Jadi saya buat songkok yang sudah jadi, habis itu saya bawa ke rumahnya buat di lukis, kemudian saya ambil lalu dipacking dan diperjualbelikan. Meskipun agak jauh dari rumah saya, tapi saya senang sekali karena itu songkok yang saya buat pertama kali di Desa saya dan Alhamdulillahnya banyak yang suka.” Ucapnya.

Kini banyak sekali jenis motif songkok yang Nawadlir(47) produksi. Tiap motifnya sendiri dia produksi atas keinginan dari para pembeli. Harga dari Songkok sendiri ia patok mulai dari Rp.30.000,- sampai Rp.50.000,- tergantung dengan motif yang di pilih oleh para pembelinya. Sementara untuk ukuran songkoknya sendiri, Nawadlir membuat songkok mulai ukuran 0 hingga 10, bahkan bisa lebih jika pembeli menginginkannya.  

Tak hanya songkok saja, Nawadlir juga mempunyai usaha lain yaitu Rebana. Alasan ia membuka usaha ini pun masih sama dengan alasan ia memproduksi Songkok, yaitu lingkungan yang mempengaruhi ia dalam memproduksinya. Produk Rebana sendiri, ia selalu menyetor kepada bosnya setiap 2 minggu sekali. Dan dalam 2 minggu tersebut dia memproduksi rebana sebanyak 5-6 lusin Rebana.

Sabrina Zarah Azura 23041184348

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ES JERUK PERAS SEGAR YANG COCOK DI KONSUMSI SEMUA KALANGAN

Baliho PKB dengan Capres Cawapres 2024 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar di Jalan Semambung Sidoarjo

Mendaki Gunung Untuk Menemukan Ketenangan Hidup di Tengah Kekacauan Yang Ada di Kota