Gagal dalam bermimpi dan berakhir menjadi sebuah hobi
Surabaya - Mimpi adalah sumber penggerak yang membuat setiap manusia mengetahui tujuan hidupnya. Dengan mimpi, setiap orang memiliki semangat dan energi untuk dicapai selama menjalani kehidupan ini. Ini adalah upaya dalam mengejar mimpi menjadi apapun yang di cita-citakan. Untuk itu, motivasi terus menang dan bisa akan menjadi kunci.
Cabang olahraga badminton menjadi salah satu di antara beberapa cabang olahraga lainnya yang cukup dikenal oleh banyak orang Indonesia dan juga dunia. Olahraga yang satu ini juga dikenal dengan istilah badminton. Kemudian, di Indonesia lebih familiar atau lebih dikenal banyak masyarakat Indonesia dengan istilah bulu tangkis. Bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya anak-anak dan kalangan remaja, kebanyakan orang yang sudah berusia matang pun masih menyukai olahraga tersebut.
Contohnya sekarang, Badminton adalah sebuah mimpi untuk menjadi atlet dan hobi dari Muhammad Mursyid Qudum (19), Mahasiswa sosiologi di UNESA. Setiap Minggu pada hari libur, dirinya menyempatkan diri bermain badminton bersama teman-temannya yang se-hobi dengannya. Muhammad Mursyid Qudum atau yang lebih akrab disapa Ucit itu mengaku sejak masih duduk di bangku MI sudah menyukai olahraga badminton dan ingin menjadi atlet. Dirinya mulai mengenal olahraga badminton dari ayahnya. “Suka badminton sejak saya masih kecil. Waktu itu ayah sering mengajak saya bermain badminton,” ungkapnya.
Bermain badminton sering dilakoni Ucit bersama ayahnya. Sampai seringkali Ucit mengikuti event perlombaan PORSENI yang diadakan se-kecamatan. “Waktu saya kelas 5 MI saya mengikuti lomba Porseni sekecamatan dan saya mewakili sekolah saya,” tambahnya.
Ia juga sempat ingin berhenti bermimpi dan tidak lagi menekuni hobi badminton pada saat ia menginjak Sekolah Menengah Pertama. “Pada saat saya menginjak bangku MTs, sekolah tidak mendukung dan tidak ada ekstrakurikuler badminton, waktu itu saya hampir berhenti bermain badminton tapi saya selalu di dukung oleh ayah saya,” jelasnya.
Waktu menginjak SMA, Ucit ini juga berkeinginan untuk belajar di pondok pesantren jadi tidak bisa meneruskan mimpinya untuk menjadi atlet badminton. “Pada saat saya masuk SMA, saya merasa dilema antara mengejar mimpi saya untuk menjadi atlet atau belajar di Pondok pesantren? lalu saya memutuskan untuk mondok dan kebetulan ayah saya juga mendukung pilihan saya ini,” ungkapnya.
Tapi itu tidak membuat Ucit patah semangat untuk latihan bermain badminton. Dia terus mengasah kemampuannya dan mengikuti ekstrakurikuler badminton di sekolahnya walaupun terhalang banyak kegiatan yang kerap kali di lakukan di pondok pesantren. “Saya lihat ternyata banyak para santri-santri yang sangat hebat bermain badminton melebihi saya. Waktu itu saya sangat bersemangat untuk meningkatkan skill saat, tapi ya … namanya mondok jadi banyak juga kegiatannya dan akhirnya jarang mengikuti lomba atau event di luar pondok,” terangnya.
Ucit juga menambahkan “Mungkin ini sudah takdir saya yang hanya menjadi penikmat olahraga badminton, dan mungkin itu jalan yang tepat untuk saya,”. Namun kecintaan Ucit akan olahraga, terutama Badminton, tidak pudar meski sudah menempuh pendidikan agama di pondok pesantren.
Sampai saat ini, Ucit masih menekuni hobinya tersebut. Saat bermain bulu tangkis Ucit mengatakan bahwa biasanya ia menyelesaikan satu hingga dua set permainan. Menurut dia, dengan bermain cukup lama, ia dapat mengasah kemampuanya. “Ya saat saya di titik yang sekarang ini hanya bisa mengasah kemampuan saya agar tidak hilang udan syukurlah saya tidak pernah bosan untuk bermain badminton.” (05/12/2023)
Nama :Moh. Fasihul Azmi
Kelas :H
NIM :23041184350

Komentar
Posting Komentar