Anak Muda Nongkrong di Kafe, Bahasannya Apa?
(29/11/2023) - Sebagai anak muda, mengikuti tren adalah sesuatu hal yang lumrah. Salah satunya adalah tren nongkrong di kafe atau kedai yang lain. Menurut jurnal ‘Budaya Nongkrong Anak Muda di Kafe’ karya Ahmad Fauzi, I Nengah Punia, dan Gede Kamajaya, persepsi anak-anak muda terhadap merebaknya kafe kerap diasosiasikan menjadi bagian dari gaya hidup. Dengan demikian berarti keberadaan kafe bukanlah sekedar tempat pelepas dahaga dan rasa lapar.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Kafe Restoran Indonesia-Jatim, di tahun 2012 terdapat peningkatan 15 sampai 20 persen jumlah kafe dan restoran di Kota Surabaya. Tentunya jumlah tersebut akan terus bertambah seiring bertambahnya tahun. Konsep yang dibawakan tiap kafe juga berbeda, seperti Karen’s Diner dimana konsep dari restoran tersebut adalah pelayannya yang jutek dan kasar kepada pelanggan.
Tujuan anak muda nongkrong juga berbeda-beda, ada yang bertujuan mengerjakan tugas namun ada juga yang sekedar mengobrol bersama teman untuk melepas penat. “Sebenernya relative juga kebanyakan buat nugas kalau nongkrong diluar dan gak nugas biasanya buat refreshing aja,” ujar Mumtaz (20), Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Sebelas Maret. Mumtaz juga menambahkan alasan mengapa diriya suka nongkrong bersama temaan-temannya salah satunya adalah untuk saling bertukar pikiran.
Pembahasan topik yang bermacam-macam juga banyak dijumpai saat pergi ke kafe. “Kalau nongkrong sama temen sih lebih seringnya bahas tugas,” ucap Hannata (18), Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Namun ada juga pembahasan topik yang sedikit menjuru ke arah politik. “Karena mata kuliahnya hampir politik semua ya bahasnya politik, kan enak tuh diskusi politik sambil nyeruput kopi,” ujar Devan (20), Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik Universitas Negeri Yogyakarta.
Selain itu, fasilitas yang ada di kafe juga cukup menjadikan alasan mengapa banyak mahasiswa atau anak muda yang lain lebih suka nongkrong di kafe, terutama kafe 24 jam. “Kafe 24 jam sih pasti jadi pilihan, soalnya kita juga gatau kapan tugas selesai,” ucap Mumtaz. Wifi gratis, tempat nyaman, dan banyak camilan juga menjadi nilai tambah bagi para mahasiswa.
Pemilihan lokasi kafe juga masih diperhitungkan oleh mahasiswa terutama anak kos. “Kalau cari kafe sih lebih sering tanya kakak tingkat yang udah lebih dulu kenal lingkungan sini sih dari pada asal milih,” kata Devan. Nongkrong bersama kakak tingkat juga sudah merupakan budaya yang biasa di lingkungan kampus untuk menambah relasi.
Kebanyakan menu yang dipilih adalah minuman yang mengandung kafein seperti teh, kopi hitam, cappuchino, dan sebagainya. “Tentu biar gak ngantuk waktu ngerjain tugas ya pesen kopi kalau cowok, kalau cewek mungkin teh atau susu coklat,” ucap Hannata. Salah satu manfaat kafein sendiri adalah untuk meningkatkan fokus otak.
Tetapi budaya nongkrong untuk sekedar menghabiskan waktu juga sudah merupakan hal yang biasa. “Kalau nongrong di kafe gak ngrjain tugas mentok-mentok jam 10 malem, tapi kalau nongkrongnya di rumah temen sampe jam 2 pagi juga bisa,” kata Devan. Devan mengungkapkan bahwa salah satu faktor mengapa dirinya suka nongkrong karena dia tidak kesepian saat merantau sendirian.
Mengatur waktu yang baik antara bermain dan belajar juga merupakan tugas tiap mahasiswa. “Nongkrong ya kalau ga ada tugas atau kalau tugas udah selesai, tapi kalau mau nongrong sambil ngerjain tugas ya harus komitmen tugas selesai hari itu juga. Kalau sering ditunda-tunda nanti jadi stress sendiri,” ungkap Hannata.
Nama : Listika Nuswantoro
Kelas : 2023H
NIM : 23041184345
Komentar
Posting Komentar